Metode yang mengandalkan umpan-umpan panjang dengan istilah Kick and
Rush, pertama kali dikemukakan oleh Charles Reep, seorang veteran
tentara Inggris yang kemudian menjadi pengamat sepak bola pada tahun
1950an.
Dalam pengamatannya yang kerap menyaksikan gol dari sebuah
proses tak lebih dari tiga kali umpan, membuatnya menarik kesimpulan
sangatlah penting jika si kulit bundar secepatnya dikirim ke arah gawang
lawan, sehingga peluang gol semakin besar.
Jika ditilik dari arti
kata per kata dalam Bahasa Inggris, Kick berarti menendang dan Rush
adalah terburu-buru. Maka dari itu, metode ini bisa diartikan sebagai
sebuah sistem yang berusaha mengalirkan bola secepatnya ke jantung
pertahanan lawan, sehingga terjadi kemelut dan berujung gol. Kick and
Rush dimotori permainan para pemain sayap.
Teori yang diungkapkan
itu, dalam tempo yang relatif singkat dapat diterima oleh klub-klub
daratan Inggris dan bahkan mulai digunakan hingga ke level timnas,
begitu terlihat keampuhannya dalam sebuah pertandingan.
Inggris
kemudian boleh berbangga dengan metode yang diterapkan itu, setelah
meraih Piala Dunia 1966. Di partai final yang dihelat di Stadion
Wembley, 30 Juli 1966, Bobby Moore cs berhasil membungkam Jerman Barat
setelah melalui babak tambahan dan akhirnya menang dengan skor 4-2.
Tiga
gol berhasil dicetak oleh penyerang andalan Three Lions saat itu, Geoff
Hurst dan salahsatunya tercipta melalui pola Kick and Rush. Berawal
dari pelanggaran yang dilakukan Wolfgang Overath di menit ke-19 di
daerah pertahanan Inggris, tendangan bebas langsung diarahkan ke jantung
pertahanan oleh Bobby Moore dan disambut dengan sundulan oleh Hurst.
Strategi
tersebut, kontan mendapat sanjungan dari publik Negeri Ratu Elizabeth
dan sebagian pengemar bola seluruh penjuru dunia, sehingga mencapai
puncak popularitas.
Era kejayaan klub-klub Inggris penganut Kick and Rush
Di
era 1980an, Liverpool dikenal sebagai salah satu klub elit Inggris yang
memegang teguh prinsip Kick and Rush. Dengan sebagian besar anggota
skuad asli dari Britania Raya, The Reds disegani di pentas domestik dan
tingkat Eropa.
Gelar Liga Champions tahun 1981 yang saat itu masih
bernama Piala Eropa, menjadi penanda kedigdayaan Kick and Rush setelah
di partai final yang berlangsung di Stadion Parc des Princes, Paris, 27
Mei 1981, Kenny Dalglish cs mengalahkan Real Madrid, dengan skor 1-0.
Tahun
berikutnya, giliran Aston Villa yang juga menerapkan metode Kick and
Rush mencatatkan diri sebagai klub terbaik Benua Biru, dengan
menundukkan Bayern Munchen 1-0 di partai puncak yang dihelat di Stadion
De Kuip, Rotterdam.
Liverpool kembali membuktikan diri sebagai
yang terbaik di Eropa, dengan merebut juara tahun 1984, setelah menang
adu penalti (4-2) dari AS Roma, di Stadion Olimpico Roma, 30 Mei 1984.
Sayangnya, setelah itu, tak ada lagi klub Inggris dengan sistem Kick and
Rush yang menjadi kampiun Eropa.
Kick and Rush mulai mengalami perubahan
Perlahan,
pola permainan langsung ini pudar seiring berkembangnya sepak bola
modern di era 90an. Pelatih-pelatih mulai serius menggarap taktik
bermain, posisi pemain, pergerakan pemain maupun jebakan offside.
Pola Kick and Rush menjadi kian mudah diantisipasi. Hal tersebut
terbukti dengan sulitnya Timnas Inggris meraih gelar, setelah mencicipi
gelar juara dunia 1966.
Kick and Rush pun kian memudar di tanah
kelahirannya. Digelarnya Liga Primer Inggris pada tahun 1992, membuka
peluang bagi pemain, pelatih dari luar daratan Britania Raya, termasuk
idealisme permainannya, masuk dan memberi dampak perubahan pada
permainan tim-tim peserta.
Strategi ini masih banyak terlihat di
Inggris, namun klub-klub besar seperti Manchester United, Chelsea maupun
Arsenal sudah mulai meninggalkannya. Klub seperti Manchester United
memodifikasi gaya asli Inggris dengan permainan pendek setelah
berakhirnya era duet sayap Ryan Giggs dan David Beckham, sekaligus
masuknya pemain individual seperti Cristiano Ronaldo.
Meski masih
kental, Kick and Rush di Inggris sudah mengalami modifikasi. Gelandang
tengah yang sebelumnya lebih banyak bertugas sebagai ‘tukang angkut air’
alias gelandang bertahan, yang memotong bola di tengah dan kemudian
sesegera mungkin mengalirkan ke depan, kini diberi peran sebagai
pengatur serangan alias playmaker.
Sementara itu, tim-tim
medioker seperti Stoke City, West Bromwich Albion, Sunderland dan
Southampton, yang sangat mengandalkan umpan lambung, kecepatan serta
kekuatan fisik, ketimbang teknik menggiring bola, masih menerapkan Kick
and Rush.
Tak mampu bersaing di level internasional
Di
level Timnas Inggris, metode Kick and Rush sempat diterapkan kembali
saat ditukangi oleh Fabio Capello. Kendati berasal dari Italia, pelatih
kawakan tersebut menganggap jati diri Three Lions adalah permainan
bola-bola panjang, sehingga patut dilestarikan.
Ironisnya, apa
yang diharapkan publik Inggris dengan digunakannya sistem warisan
pendahulunya yang sempat melambungkan nama Tiga Singa, tak mampu
mengantarkan mereka kembali ke puncak kejayaan.
Pada perhelatan
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Inggris yang dihuni oleh segudang
pemain tenar seperti Steven Gerrard, Frank Lampard dan Wayne Rooney, tak
mampu berbuat banyak dalam mengantar timnya menjadi jawara pesta sepak
bola terakbar empat tahunan itu. Hanya menempati posisi runner up di fase grup, Rooney Cs tumbang di 16 besar lawan Jerman dengan skor 1-4.
Pola
umpan-umpan panjang yang coba diperagakan mudah ditebak dan dipatahkan
oleh lini belakang Jerman yang dikomando oleh Per Mertesacker dan
Philipp Lahm.
"Menurut saya, Timnas Inggris mengalami kemunduran
gaya permainan dengan masih menggunakan Kick and Rush. Mereka tak mampu
berbuat banyak dalam bermain sepak bola ketika saya lihat hanya bermain
imbang 1-1 melawan Amerika Serikat," sindir Franz Beckenbauer, seperti
dilansir The Sun.
"The Three Lions mendapat imbas dari
minimnya pemain Inggris yang berlaga di klub Liga Primer Inggris,
sehubungan dengan gencarnya klub-klub menggunakan jasa pemain asing dari
seluruh dunia," lanjut tokoh berjuluk Der Kaizer.
Kini, Kick and
Rush kian jauh dari popularitas dan mulai ditinggalkan oleh praktisi
sepak bola, tergerus strategi yang lebih terorganisir seperti tiki taka
maupun catenaccio.
Kendati pola Kick and Rush murni dianggap sudah
tak relevan dengan perkembangan zaman, filosofi mereka tetap memberi
warna bagi sepak bola dunia dan kehadirannya patut diberi apresiasi,
seperti halnya jogo bonito Brasil, total football Belanda, catenaccio
Italia dan tiki taka Spanyol.
0 komentar:
Post a Comment