Pages

END


Get this widget!

Sunday, 24 November 2013

SEPAKBOLA KICK AND RUSH TERMAKAN ZAMAN

Metode yang mengandalkan umpan-umpan panjang dengan istilah Kick and Rush, pertama kali dikemukakan oleh Charles Reep, seorang veteran tentara Inggris yang kemudian menjadi pengamat sepak bola pada tahun 1950an.
Dalam pengamatannya yang kerap menyaksikan gol dari sebuah proses tak lebih dari tiga kali umpan, membuatnya menarik kesimpulan sangatlah penting jika si kulit bundar secepatnya dikirim ke arah gawang lawan, sehingga peluang gol semakin besar.
Jika ditilik dari arti kata per kata dalam Bahasa Inggris, Kick berarti menendang dan Rush adalah terburu-buru. Maka dari itu, metode ini bisa diartikan sebagai sebuah sistem yang berusaha mengalirkan bola secepatnya ke jantung pertahanan lawan, sehingga terjadi kemelut dan berujung gol. Kick and Rush dimotori permainan para pemain sayap.
Teori yang diungkapkan itu, dalam tempo yang relatif singkat dapat diterima oleh klub-klub daratan Inggris dan bahkan mulai digunakan hingga ke level timnas, begitu terlihat keampuhannya dalam sebuah pertandingan.
Inggris kemudian boleh berbangga dengan metode yang diterapkan itu, setelah meraih Piala Dunia 1966. Di partai final yang dihelat di Stadion Wembley, 30 Juli 1966, Bobby Moore cs berhasil membungkam Jerman Barat setelah melalui babak tambahan dan akhirnya menang dengan skor 4-2.
Tiga gol berhasil dicetak oleh penyerang andalan Three Lions saat itu, Geoff Hurst dan salahsatunya tercipta melalui pola Kick and Rush. Berawal dari pelanggaran yang dilakukan Wolfgang Overath di menit ke-19 di daerah pertahanan Inggris, tendangan bebas langsung diarahkan ke jantung pertahanan oleh Bobby Moore dan disambut dengan sundulan oleh Hurst.
Strategi tersebut, kontan mendapat sanjungan dari publik Negeri Ratu Elizabeth dan sebagian pengemar bola seluruh penjuru dunia, sehingga mencapai puncak popularitas.
Era kejayaan klub-klub Inggris penganut Kick and Rush
Di era 1980an, Liverpool dikenal sebagai salah satu klub elit Inggris yang memegang teguh prinsip Kick and Rush. Dengan sebagian besar anggota skuad asli dari Britania Raya, The Reds disegani di pentas domestik dan tingkat Eropa.
Gelar Liga Champions tahun 1981 yang saat itu masih bernama Piala Eropa, menjadi penanda kedigdayaan Kick and Rush setelah di partai final yang berlangsung di Stadion Parc des Princes, Paris, 27 Mei 1981, Kenny Dalglish cs mengalahkan Real Madrid, dengan skor 1-0.
Tahun berikutnya, giliran Aston Villa yang juga menerapkan metode Kick and Rush mencatatkan diri sebagai klub terbaik Benua Biru, dengan menundukkan Bayern Munchen 1-0 di partai puncak yang dihelat di Stadion De Kuip, Rotterdam.
Liverpool kembali membuktikan diri sebagai yang terbaik di Eropa, dengan merebut juara tahun 1984, setelah menang adu penalti (4-2) dari AS Roma, di Stadion Olimpico Roma, 30 Mei 1984. Sayangnya, setelah itu, tak ada lagi klub Inggris dengan sistem Kick and Rush yang menjadi kampiun Eropa.
Kick and Rush mulai mengalami perubahan
Perlahan, pola permainan langsung ini pudar seiring berkembangnya sepak bola modern di era 90an. Pelatih-pelatih mulai serius menggarap taktik bermain, posisi pemain, pergerakan pemain maupun jebakan offside. Pola Kick and Rush menjadi kian mudah diantisipasi. Hal tersebut terbukti dengan sulitnya Timnas Inggris meraih gelar, setelah mencicipi gelar juara dunia 1966.
Kick and Rush pun kian memudar di tanah kelahirannya. Digelarnya Liga Primer Inggris pada tahun 1992, membuka peluang bagi pemain, pelatih dari luar daratan Britania Raya, termasuk idealisme permainannya, masuk dan memberi dampak perubahan pada permainan tim-tim peserta.
Strategi ini masih banyak terlihat di Inggris, namun klub-klub besar seperti Manchester United, Chelsea maupun Arsenal sudah mulai meninggalkannya. Klub seperti Manchester United memodifikasi gaya asli Inggris dengan permainan pendek setelah berakhirnya era duet sayap Ryan Giggs dan David Beckham, sekaligus masuknya pemain individual seperti Cristiano Ronaldo.
Meski masih kental, Kick and Rush di Inggris sudah mengalami modifikasi. Gelandang tengah yang sebelumnya lebih banyak bertugas sebagai ‘tukang angkut air’ alias gelandang bertahan, yang memotong bola di tengah dan kemudian sesegera mungkin mengalirkan ke depan, kini diberi peran sebagai pengatur serangan alias playmaker.
Sementara itu, tim-tim medioker seperti Stoke City, West Bromwich Albion, Sunderland dan Southampton, yang sangat mengandalkan umpan lambung, kecepatan serta kekuatan fisik, ketimbang teknik menggiring bola, masih menerapkan Kick and Rush.
Tak mampu bersaing di level internasional
Di level Timnas Inggris, metode Kick and Rush sempat diterapkan kembali saat ditukangi oleh Fabio Capello. Kendati berasal dari Italia, pelatih kawakan tersebut menganggap jati diri Three Lions adalah permainan bola-bola panjang, sehingga patut dilestarikan.
Ironisnya, apa yang diharapkan publik Inggris dengan digunakannya sistem warisan pendahulunya yang sempat melambungkan nama Tiga Singa, tak mampu mengantarkan mereka kembali ke puncak kejayaan.
Pada perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Inggris yang dihuni oleh segudang pemain tenar seperti Steven Gerrard, Frank Lampard dan Wayne Rooney, tak mampu berbuat banyak dalam mengantar timnya menjadi jawara pesta sepak bola terakbar empat tahunan itu. Hanya menempati posisi runner up di fase grup, Rooney Cs tumbang di 16 besar lawan Jerman dengan skor 1-4.
Pola umpan-umpan panjang yang coba diperagakan mudah ditebak dan dipatahkan oleh lini belakang Jerman yang dikomando oleh Per Mertesacker dan Philipp Lahm.
"Menurut saya, Timnas Inggris mengalami kemunduran gaya permainan dengan masih menggunakan Kick and Rush. Mereka tak mampu berbuat banyak dalam bermain sepak bola ketika saya lihat hanya bermain imbang 1-1 melawan Amerika Serikat," sindir Franz Beckenbauer, seperti dilansir The Sun.
"The Three Lions mendapat imbas dari minimnya pemain Inggris yang berlaga di klub Liga Primer Inggris, sehubungan dengan gencarnya klub-klub menggunakan jasa pemain asing dari seluruh dunia," lanjut tokoh berjuluk Der Kaizer.
Kini, Kick and Rush kian jauh dari popularitas dan mulai ditinggalkan oleh praktisi sepak bola, tergerus strategi yang lebih terorganisir seperti tiki taka maupun catenaccio.
Kendati pola Kick and Rush murni dianggap sudah tak relevan dengan perkembangan zaman, filosofi mereka tetap memberi warna bagi sepak bola dunia dan kehadirannya patut diberi apresiasi, seperti halnya jogo bonito Brasil, total football Belanda, catenaccio Italia dan tiki taka Spanyol.

0 komentar:

Post a Comment